Hati merupakan suatu bagian yang sangat erat berkaitan dengan perasaan. Segala rasa suka, senang, sedih dan sakit, ia lah yang merasakannya. Lalu kemudian apa kata hati? Kata hati ialah kata yang diucapakan oleh hati? Semua rasa yang bergejolak sangat dahsyat yang dirasakan oleh hati memang mampu menginterpretasikan bahwa ia mampu berkata. Kata yang mengisyaratkan bahwa ini benar, ini salah, lakukan ini ataupun jangan lakukan itu. Kata hati inilah yang bagi kebanyakan orang menuntun untuk bertingkah laku.

Ada yang berpendapat bahwa kata hati selalu benar. Hal ini diakui bagi kebayakan orang. Tapi ingatkah kita, semenjak diturunkannya Nabi Adam ke bumi, syetan yang merupakan musuh sepanjang zaman bersumpah janji akan selalu menganggu manusia, menggoda dari sudut manapun, termasuk dalam hati. Syetan terus memanfaatkan hati manusia. Bukankah saat Nafsu dan Amarah memuncak ada peran serta dari para syetan? Kata hati setiap orang pasti sama bahwa kalau dihianati itu rasanya sakit. Tapi tindakan setiap orang tidak akan sama dalam melampiaskan rasa sakit itu.

Dalam bertindak harusnya kita tidak selalu mengikuti kata hati, melainkan berdasarkan hasil pengolahan kata hati itu sehingga muncul lah keyakinan serta kesadaran. Jauh di dalam lubuk ini, kata hati kebanyakan orang pasti masih bertanya-tanya tentang kebenaran adanya Tuhan, meskipun dia beragama. Tapi dengan adanya keyakinan yang begitu kuat, kita masih percaya dan yakin bahwa Tuhan itu benar-benar ada, apapun alasannya. Kita dengan sangat sadar meyakini hal itu dan sampai saat ini pun kita masih beriman. Ada iman bersemayam dalam hati.

Tidak heran jika kaum laki-laki lebih sering menggunakan logika mereka dalam bertindak. Hal ini bukan berarti mereka tidak punya kata hati. Mereka semua sama, pasti merasakan kata hati, jauh sampai yang terdalam. Tapi mereka lebih cenderung mengolah kata hatinya sampai merasa sesuai dengan pikirannya. Hati dan pikiran memang harus sinkron. Jangan sampai menuruti satu sisi saja.

Sementara kaum wanita cenderung terlihat lemah mungkin memang karena kecenderungannya menggunakan perasaan, selalu mengikuti kata hati. Melow di sana  sini. Lihatlah ketika seorang wanita sedang bermasalah dengan pasangannya! Sering menuntut perasaan yang merasa  diinikan dan begitukan. Meskipun begitu, hati wanita kodratnya memang sangat lembut. Kelembutan hati yang begitu agung, penuh cinta dan kasih.

Sungguh egoisnya tatkala kita sering mengikuti kata hati. Kata hati tetap harus diolah sehingga dapat bertindak benar. Dengan melihat kondisi lingkungan dan bahkan melihat hati orang lain relakan untuk tidak mengikuti kata hati sendiri. Jangan ikuti kata hati!!! ^^